Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2016

Membuka Simpul Akal, Dwi Condro Triono, Ph.D

Untuk Renungan
*Pemikiran Level 3 (Semua pertanyaan harus bisa dijawab)*
Ditulis dari Kajian Teori Berpikir Tingkat 3 oleh Ust Dwi Condro Triono, Ph.D
_Ada seorang Pencuri diproses di Pengadilan. Setelah membuktikan bahwa si Pencuri terbukti mencuri Sang Hakim memvonis Si Pencuri dengan hukuman 2 tahun penjara. Kemudian Sang Hakim menawarkan kepada Si Pencuri menerima vonis atau naik banding. Kemudian Si Pencuri bertanya kepada Sang Hakim._
*Pencuri :* Kenapa saya dihukum 2 tahun penjara Pak Hakim? Hukuman 2 tahun penjara itu benar apa salah Pak Hakim?
*Hakim :* Hukuman 2 tahun penjara itu benar!
*Pencuri :* Jika benar, dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya adalah menurut KUHP.
*Pencuri :* Kenapa harus mendasarkan pada KUHP? Mendasarkan pada KUHP itu benar apa salah Pak Hakim?
*Hakim :* Mendasarkan pada KUHP itu benar!
*Pencuri :* Jika benar dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya adalah UU Peradilan.
*Pencuri :* Pak Hakim, mengapa harus mendasarkan pada UU Peradilan? Mendasarkan pada UU Peradilan itu benar apa salah Pak Hakim?
*Hakim :* Mendasarkan pada UU Peradilan itu benar!
*Pencuri :* Jika benar dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya adalah UUD ‘45.
*Pencuri :* Pak Hakim, mengapa harus mendasarkan pada UUD ‘45? Mendasarkan pada UUD ‘45 itu benar apa salah Pak Hakim?
*Hakim :* Mendasarkan pada UUD ‘45 itu benar!
*Pencuri :* Jika benar dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya adalah Pancasila.
*Pencuri :* Pak Hakim, mengapa harus mendasarkan pada Pancasila? Mendasarkan pada Pancasila itu benar apa salah Pak Hakim?
*Hakim :* Mendasarkan pada Pancasila itu benar!
*Pencuri :* Jika Benar dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya adalah dari Founding Fathers. Berdasarkan kesepakatan dari pendiri negara ini. Kita ini kan Bangsa Indonesia, kita ini Rakyat Indonesia, kita itu berada di negara Indonesia, negara Indonesia itu yang membuat siapa? yang mendirikan siapa? Kan Pendiri Negara, dan setiap Pendiri negara itu pasti sudah merumuskan dasar bagi negara ini. Sampeyan mau nurut sama siapa? Kalau nggak mau nurut sama Pendiri negara ini, itu di lautan Pasifik masih luas, butuh rakyat itu banyak yang siripnya keatas.
*Pencuri :* Pak Hakim, mengapa harus mendasarkan pada Pendiri Negara? Mendasrkan pada Pendiri Negara itu benar apa salah Pak Hakim?
*Hakim :* Mendasarkan pada Pendiri Negara itu benar! Karena kita berada di Indonesia. Negara ini ada Pendirinya. Kita harus ikut, kita harus taat kepada Pendiri Negara ini.
*Pencuri :* Jika Benar dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya adalah sesuai dengan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia. Jadi Pendiri Negara kita merumuskan Pancasila yang lima itu dasarnya apa? Itu sudah dikaji, sudah diteliti, sudah diperiksa, sudah ditelisik bahwa ternyata Bangsa Indonesia itu punya nilai-nilai yang sangat tinggi, nilai-nlai yang sangat luhur, dan itu ternyata setelah dicari, dirumuskan ketemunya Lima Sila. itulah nilai yang tertinggi dari Bangsa Indonesia, inilah nilai luhur dari Bangsa Indonesia, itulah nilai yang seharusnya menjadi tumpuan, rujukan, dasar bagi negara ini, yaitu Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia. Nilai Luhur itu, Nilai Yang Tertinggi, Nilai Yang Mulia, Nilai Yang Agung, Kita nggak usah nyari sudah dicari oleh Para Pendiri Kita. Trus kalau nggak mau tunduk pada Nilai Luhur mau tunduk pada Nilai apa? Wong kuliah aja nilainya jelek-jelek kok.
*Pencuri :* Pak Hakim, mengapa mendasarkan pada Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia? Mendasarkan pada Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia itu benar apa salah?
*Hakim :* Mendasarkan pada Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia itu Benar!
*Pencuri :* Jika benar dasarnya apa Pak Hakim?
*Hakim :* Dasarnya dari Nenek Moyang Bangsa Indonesia. Nilai-Nilai Luhur Bangsa Indonesia itu warisan Nenek Moyang Bangsa indonesia.
*Pencuri :* Pak Hakim, mengapa kita harus mendasarkan pada Nenek Moyang Bangsa Indonesia? Mendasarkan pada Nenek Moyang Bangsa Indonesia itu benar apa salah pak Hakim?
*Hakim :* Mendasarkan pada Nenek Moyang itu benar!
*Pencuri :* Jika benar dasarnya apa?
*Hakim :* Dasarnya adalah dari Nenek Moyangnya lagi!
*Pencuri :* Pak Hakim trus Nenek Moyangnya lagi darimana?
*Hakim :* ……
_Kira-kira pertanyaan ini berhenti sampai apa? Yang namanya berpikir tingkat 3 pasti ada berhentinya, itulah yang disebut pemikiran yang paling mendasar. Kalau sudah berhenti sudah tidak bisa ditanyakan lagi itu berarti kita sudah sampai kepada Pemikiran yang mendasar. Itu pemikiran yang jernih. Ibarat melihat air. Jika hanya melihat permukaan itu namanya dangkal, airnya butek, kalau airnya butek hanya bisa melihat permukaan, jika agak jernih, kita bisa melihat dalamnya, ikan-ikan berenang kelihatan, itu mendalam, tapi kalau sampai lihat dasar kolamnya itu namanya jernih atau mendasar. Kira-kira berhenti sampai apa berpikir tingkat 3 itu. Semua pemikiran manusia, semua orang yang mengaku berpikir itu pasti pemikirannya akan berhenti pada pertanyaan *”Darimana asal muasal manusia alam dan kehidupan?”*_
Jawab dulu sebelum kita berdiskusi vonis 2 tahun itu benar apa salah, Manusia alam dan kehidupan itu asalnya dari mana? Manusia alam dan kehidupan ada penciptanya apa tidak? Jika Pencipta itu ada, Pencipta menciptakan manusia itu bebas membuat aturan sendiri atau wajib mengikuti aturan Pencipta? Jika wajib terikat dengan aturan Pencipta, jika ada orang mencuri menurut aturan Pencipta hukumannya apa??
*Semoga Tercerahkan*
(Karena saya salah satu yg manggut-manggut oleh Buku tulisannya, membuka simpul akal)

Rabu, 23 November 2016

Maaf Untuk Ramadhan Suci

Mungkin ini hari ke 29 l hari terakhir di bulan Syaban.

Memang Permintaan maaf menjelang Ramadhan
Bukanlah kebiasaan dibentuk oleh para sahabat
Tapi bukan berarti tak boleh memberi maaf kepada sobat

Tak ada manusia hari ini yang tak bersalah
Tak ada manusia hari ini hidup tanpa celah
Maka izinkan saya memberi maaf
karena diri seringkali khilaf

Taqoballahu minna wa minkum
Izinkan maaf diterima dbenak hati antum
Mungkin ada noda tak bisa dimaafkan
tapi kupercaya hatimu menerimanya dengan kebaikan

Kita mulai kembali dari 0
bukan berarti segala sesuatu kembali mulai dari awal.

Ingin kembali pada titik 0. Permintaan maaf dari seorang yang dhoif, SALAM EL FATH

- Untuk semua sahabat, saudara, teman fesbuk dan orang yang menganggap saya adalah lawannya -

"PENYEBAB UMAT MUSLIM TAK LAGI ISTIQOMAH DALAM BERIBADAH"

Saya mencoba menganalisa penyebab terjadinya "KEMAJUAN" jamaah Masjid dalam #RamadhanBerkah.

Adalah sesuatu yang sebenarnya MALAPETAKA bagi umat muslim saat ini khususnya di Indonesia.

Setiap bulan Ramadhan menjelang tiba. Malam pertama Masjid-Masjid MEMBLUDAK tidak seperti biasanya.

Namun beberapa hari setelahnya para jama'ah mulai mengalami "KEMAJUAN" dalam barisan shafnya.

Pertama MEMBLUDAK, FULL, SEMPIT, BERDEMPET-DEMPETAN, Saling berlomba mengisi shaf-shaf yang longgar, khusu' walau terkadang lirik-lirikan.

Namun beberapa hari kemudian para jama'ah mulai "MAJU" ke depan, Masjid semakina MELUAS, LONGGAR, BERKURANG, tak ada lagi yang terburu-buru untuk mengisi shaf-shaf yang luas.

Semuanya menghilang, bagai kumpulan orang dikala gempa bumi menerjang. dan kembali pada kebiasaan masing-masing setelah gempa bumi usai dan menghilang.

Hal ini membuat ku tertantang untuk aku RENUNGKAN. Berusaha mencari celah lewati lembah seperti Doraemon mencari Nobita yg terkena Masalah.

Setelah cukup lama menjelajah. celah itu pun terlihat benderang bagai SUNRISE yang mengintip indah di balik pegunungan.

Yang menurut ku penyebab umat muslim mulai terlihat hilang semangat dalam menjalankan ibadah di bulan puasa adalah,

Pertama, Umat muslim telah terbiasa dengan kemalasan dalam beribadah di luar bulan Ramadhan. Sehingga mereka sangat berat untuk bergerak melakukan suatu perbuatan yang tidak biasa mereka lakukan.

Ibarat seseorang yang terbiasa tidur pagi, namun diperintah untuk memperbiasakan diri bangun di pagi hari.

Awalnya ia mudah jalani, dengan WAKER segede bola ia tempatin di samping kepala agar bisa bangunin dia di pagi hari.

Karena ia tak biasa bangun pagi,  apalagi dengar suara brisik di tengah asyiknya berjelajah di sebuah mimpi. WAKERnya di lempari ke dinding agar tidak brisik lagi.

Begitu pula dengan ibadah yang umat muslim jalani di Ramadhan ini. sebab tak biasa ibadah selama ini, lalu diperintah untuk ibadah shalat 5 waktu sehari, baca qur'an 1 juz sehari, Shalat Tarwih, bangun Sahur.
Subhanallah.....Itu berat bangeeetttt....

Akhirnya Shalat 5 waktu;Shalat Tarwih, Shalat subuh, Baca Qur'an dan Puasa di siang hari. Mulai banyak yg tidak jalani.

Kedua, Penyebab mulai berkurangnya umat muslim yang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan adalah, HILANGNYA perasaan sangat MULIA dan PENTINGNYA Ramadhan dari hati mereka.

Sehingga kaum muslim tidak lagi merasa rugi untuk meninggalkan amalan-amalan yang diberi ganjaran PAHALA yang berlipat ganda di tengah-tengah mereka.

Ketiga,  ini yang terakhir menurut saya. Umat muslim tak lagi berupaya untuk memperbaiki diri dalam bulan Ramadhan ini disebabkan SEKULARISME - DEMOKRASI yang membebaskan manusia untuk melakukan apa saja sekehendak mereka yang di dukung oleh HAM kufur telah menguasai jiwa umat muslim saat ini.

Sehingga secara perlahan menghancurkan keyakinan mereka terhadap bulan RAmadhan yang telah DIMULIAKAN oleh ALLAH SWT.

Dan sedikit demi sedikit KEIMANAN mereka tergerus hingga tak lagi menyadari bahwa mereka akan MATI lalu dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH.

Kemudian mereka begitu terpesona oleh kehidupan MATERIALISTIK yang terpampang dihadapan mereka. sehingga mereka tak lagi berbuat kecuali ada iming-iming materi yang akan mereka dapatkan dalam menjalankan suatu aktivitas.

Seandainya 1 PAHALA itu berwujud Uang 1 juta. Dan DOSA itu berbau sebagaimana bangkai babi yang telah berhari-hari.

Maka tak akan ada seorang umat manusia pun yang akan menelantarkan Segala PERINTAH ALLAH.

Baik itu SHALAT, BERPUASA, BACA QUR'AN, MENEGAKKAN KHILAFAH Ataupun yang lainnya. Wallahu a'lam...

Senin, 21 November 2016

Ku Mengagumimu Dalam Diam "Tri Mujahidah"

Masih muda dan baru lulus SMA.
Dan ia mati ketika ia ridho memilih taat pada Allah dan Allah pun ridho padanya.

Allah merahmati de'...
Engkau sudah mendedikasikan hidupmu untuk Allah, Rasul-Nya dan Islam, dengan berdakwah kepada teman2mu sejak SMA.

Engkau telah mati di dunia. Dan engkau takkan pernah lagi merasakan kematian setelah itu.

Engkau akan menjadi salah satu Bidadari Surga yang mengisi ruang-ruang keindahan di dalamnya.

Aku takjub padamu de'...
Engkau meninggalkan dunia tanpa ada rasa kesal dan kecewamu pada Allah.

Padahal ada banyak orang yang mengeluh, mencela, dan kecewa kepada Allah, hanya karena diberi rasa sakit yang sementara. Sedang masa sehat yang Allah berikan pada mereka tak disyukurinya.

Engkau berbeda de'...engkau telah memperlihatkan kepada kami betapa tsiqohnya engkau dalam menaati Allah setelah engkau memahaminya.

Dan aku berterima kasih kepada HIZBUT TAHRIR INDONESIA daerah Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang telah membina keislaman padanya sehingga ia menjadi remaja yang istiqomah taat pada Allah SWT.

Dan ku ucapkan terima kasih kepada orang yang telah membagikan informasi tentangnya.

Aku baru mengetahuinya, sementara kematiannya telah berlalu sekitar 2 bulan lamanya.

Aku tidak pernah mengenalmu, aku juga tidak berteman dengan mu di Facebook. Tapi aku membaca ucapan kebaikan dari saudari2mu atas taatmu, dan aku cemburu akan hal itu.

Aku berharap dapat bertemu dengan mu di sana. Di Surga-Nya yang penuh kenikmatan dan keindahan di sana.

Kamu tak mengenal ku, tapi aku mengenal taqwamu.

Engkau menginspirasiku, engkau menasehatiku, dan engkau mengingatkan ku akan fananya dunia yang berulang kali menipuku.

Sayangnya Allah padamu, jadikan-Nya telah memilih untuk segera berjumpa denganmu.

Aku yang baru 30 menit yang lalu mengenalmu/Salam el Fath.

Kamis, 10 November 2016

ISLAM itu AGAMA yang MANUSIAWI

ISLAM itu agama RAHMAT dan MENDAMAIKAN. Tapi bukan berarti ia berdiam diri jika dihina dan dilecehkan.

ISLAM itu agama sekaligus pandangan hidup yang manusiawi. Dan karena ia bersifat ajaran yang manusiawi, maka ia juga mengajarkan tentang cara dan terhadap apa dalam mengekspresikan marah.

Dalam diri manusia itu ada unsur cinta, ada potensi untuk menyembah, dan ada pula naluri untuk marah.

Dan ISLAM hadir di tengah-tengah manusia untuk mengatur dan mengontrol naluri tersebut agar ia dapat direalisasikan oleh manusia sesuai dengan konteks dan living(tempat)nya.

Maka sangat na'if jika mengatakan bahwa ISLAM adalah agama rahmat dan damai tapi mengira bahwa ia bersifat kaku dan berdiam diri terhadap penghinaan dan pelecehan yang terjadi padanya.

Apalagi dengan mengatakan bahwa ALLAH dan ISLAM tidak perlu dibela, karena ALLAH dan ISLAM tidak akan menjadi rendah hanya karena penghinaan dan pelecehan yang dilakukan oleh seseorang padanya.

Saya ingin mengatakan bahwa, ALLAH dan ISLAM memang tidak rendah dan hina karena celaan mereka. Tapi andalah yang akan rendah dan hina serte lebih hina dari pencela dan penghinanya.

Bagaimana mungkin kita akan membela keluarga kita dari penghinaan dan pelecehan yang dilakukan oleh orang tapi kita justru berdiam diri ketika sebuah ajaran yang telah menunjuki kita pada jalan kebenaran saat dihina dan dilecehkan.

Dahulunya umat manusia hanyalah sampah peradaban, hanyalah makhluk yang tak ubahnya dengan komunitas binatang, dan bahkan bisa lebih dari bejatnya sekumpulan hewan.

Dan ketika ISLAM datang bersama Rasul yang diutus, ia lalu menghapus berbagai macam tindakan binal dan bejat tersebut kemudian meninggikan dan memuliakan derajat manusia dari milyaran makhluk lainnya.

Tapi ketika ia dihina dan dinistakan, kita justru bersikap diam dan cenderung membiarkan pelecehan dan penghinaan itu terjadi pada ISLAM dengan alasan bahwa ia tidak akan hina karena penghinaan.

Tidakkah engkau membaca Al Qur'an, dimana di dalamnya terdapat perintah untuk membela dan menolong agama Allah (Islam). Atau karena memang ada dari kita yang telah kerasukan SETAN dan membiarkan diri menjadi hina dengan tidak membela Agama ISLAM. Wallahu a'lam....

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang hina dan menghinakan diri kita dengan bersifat apatis dan abai dari perilaku hina dan pelecehan terhadap ISLAM.

Kisah Seorang Pemuda yang Bahagianya Bukan Karena Gedung Mewah

Hal yang paling dirasa bahagia oleh seorang pemuda di ujung jalan itu adalah ketika dia melihat kemegahan arsitektur bangunan yang tinggi menjulang, interior bangunan yang begitu berkilauan, dan dikelilingi oleh aneka tanaman hias berupa bunga-bunga yang bermekaran di atas taman nan asri lagi kehijau-hijauan. Akan tetapi tidak membuatnya takjub akan kemegahan itu secara berlebihan, dan tidak membuatnya berfikir bahwa itu adalah puncak kebaikan suatu peradaban dan puncak kemuliaan pemikiran.

Ia justru merasa bahwa itu hanyalah perhiasan kecil yang tidak akan membuatnya menjadi mulia di hadapan Tuhan. Dan ia bersikap demikian bukan berarti mengharamkan hasil karya seni bangunan tersebut, akan tetapi ia hanya melihatnya sebagai salah satu karya akal murni yang telah Allah anugrahkan kepada manusia.

Dia menganggapnya sebagai sesuatu yang boleh dan biasa saja, sehingga tidak membuatnya berpaling dari ketaatan pada Allah. Ia hanya menjadikan jejeran bangunan tinggi nan megah tersebut sebagai salah satu sarana untuk melihat pemandangan yang berbeda dari kebanyakan bangunan yang ada di sekelilingnya.

Dia pernah berfoto di kaki bangunan-bangunan tinggi nan megah tersebut, dan terkadang sesekali ia berpose ria di dalam gedung yang memiliki interior berkilauan bak sekumpulan permata yang saling berlomba menampilkan cahaya kemilau di dalam bagian-bagian ruangan itu.

Akan tetapi tidak membuatnya merasa bahwa itu adalah sebuah prestasi yang perlu dibanggakan, ia justru merasa bahwa itu hanyalah sebatas permainan dan hiburan, yang kemudian ketika ia tinggalkan menuju tempat yang lain, akan hilang tertelan kesibukan dan melupakan bahwa ia pernah berpose ria dengan latar gedung tinggi nan megah serta dengan interior bangunan yang berkilau.

Tadinya ia hendak mengabadikan gambar-gambar hasil potretan di bangunan itu, tetapi setelah ia perhatikan dan merenungkan gambar-gambar tersebut. Ia kemudian memilih untuk menghapus gambar-gambar itu dari Smartphonenya, karena ia berkesimpulan bahwa semua gambar itu sama sekali tidak mendatangkan kebaikan padanya.  Tetapi justru ia merasa bahwa gambar-gambar itu hanyalah membuat penuh memory card yang ada pada Smartphonenya.

Ia merasa bahwa gambar itu tidak mendatangkan manfaat padanya. Dan ia juga merenung dan berbisik di dalam hatinya:

"Untuk apa gambar-gambar ini..? Apakah ia mendatangkan manfaat..? Atau hanya untuk menjadi alat agar bisa pamer dan berbangga diri di hadapan kawan-kawan karena mereka belum pernah mendatangi negeri yang memiliki gedung-gedung yang sangat mewah ini...?"

Dari bisikan yang terjadi di dalam hatinya tersebut membuat dia menghapus semua gambar itu, padahal tadinya ia menganggap bahwa itu adalah salah satu benda berharga yang dia miliki. Kemudian ia berfikir, yang penting sudah mengunjungi bangunan-bangunan itu, dan cukuplah ia menjadi pengetahuan dan sebagai bagian dari bahan pembicaraan agar ia tidak merasa ketinggalan dari kawan-kawannya jika memasuki ranah pembicaraan yang bersinggungan dengan daerah yang memiliki bangunan-bangunan megah.

Hanya itu, tidak lebih. Dan sekali lagi hanya itu. Dan semua itu ia jadikan sebagai pengantar untuk memasuki alam fikir objek dakwah dalam tataran perbincangan mereka sehingga ia bisa menyampaikan pesan-pesan Islam yang mulia.

Dia sebenarnya tidak terlalu suka nonton tayangan bola, dia juga tidak terlalu suka membicarakan sesuatu yang menurutnya tidak bermanfaat. Tetapi karena ia merasa bahwa untuk bisa masuk dalam ranah pembicaraan objek dakwah sebelum menyampaikan Islam kepada mereka adalah harus bisa menyesuaikan terlebih dahulu dengan frekuensi pembicaraan mereka, maka ia pun melakukannya selama hal itu tidak menyalahi aturan Syara'.

Ia terus menyambungkan setiap pandangan dab perbuatannya terkoneksi dengan Allah SWT. dalam hal ini ia selalu menyandarkan perbuatannya kepada Allah SWT. dan itu semakin membuatnya tenang dan bahagia. Ia tidak tergiur atau tergoda dengan kerlap kerlip lampu di kota. Walau sesekali teman-temannya mengajak untuk menghirup udara malam di luar rumah.

Jika teman-temannya keluar malam hanya bertujuan untuk menghirup udara malam sambil minum Kopi di Kedai pinggir jalan atau di Alun-Alun Kota, maka ia ketika keluar bersama teman-temannya bukan semata untuk itu, tetapi ada hal lain yang merasa jauh lebih penting dari itu. Yakni melihat kondisi umat manusia abad ini dan kecenderungan aktivitas yang mereka lakukan.

Dengan mengikuti teman-temannya keluar menghirup udara malam, ia bisa mengambil pelajaran tentang kondisi muda-mudi di kota, melihat kondisi masyarakat dalam bergumul dengan kesibukan mencari nafkah, pemuda yang berfoya-foya, genk motor, dan sebagainya. Yang kemudian dari banyak fakta sosial masyarakat yang ia saksikan tersebut, dapat membuatnya menghasilkan tulisan-tulisan pendek yang dapat ia sampaikan di tengah-tengah umat manusia, baik itu di dunia nyata maupun untuk berbagi di dunia maya.

Dengan berbagai macam problematika itu, kemudian dicarikan solusi agar dapat mengubah cara pandang dan perilaku orang lain sehingga mereka dapat memperbaiki diri dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan ia menjadi bahagia setelah dapat memberi penyadaran kepada sesama. Dan kebahagiaan itu tak akan pernah terlihat secara kasat mata (beyond the eyes), akan tetapi ia hanya akan mampu dirasakan oleh orang yang menyampaikan kebenaran dari Allah kepada sesama.

Itulah yang membuat seorang pemuda itu terus merasakan kebahagiaan walau sebagian temannya ada yang berkata sinis padanya,
"Tidak usah terlalu bicara tinggi, lihat di dompet, berapa banyak isinya"

Demikianlah kisah singkat seorang pemuda yang meletakkan KEBAHAGIAANNYA pada apa yang dicintai Allah dari usaha perjuangan taatnya.

Rabu, 09 November 2016

Ir. Dwi Condro Triono, Phd : Salahnya Prinsip Berbuat Baik

Dulu saya selalu beranggapan bahwa dalam menjalani hidup di dunia ini yang penting adalah banyak berbuat baik kepada sesama manusia dan jangan sampai saya berbuat jahat (berbuat buruk) kepada orang lain. Prinsip hidup ini senantiasa saya pegang dari sejak kecil. Namun seiring waktu berjalan, semakin banyak saya mengaji dan mengkaji agama Islam, ternyata prinsip hidup seperti itu tidak-lah sepenuhnya benar. Bahkan, kalau boleh dibilang, itu prinsip hidup yang berbahaya, jika diterus-teruskan. Mengapa?
Jika kita mau membuka Al-Qur’an, yaitu: QS. Al-Baqarah: 216, kemudian mau merenungkan secara lebih dalam, maka persangkaan seorang manusia terhadap amal perbuatannya, apakah itu baik atau buruk, ternyata nilainya sangat relatif di sisi Allah. Hal itu dapat kita renungkan dari firman-Nya:
وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٢١٦﴾
“Boleh jadi kamu membenci (menganggap buruk) sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai (menganggap baik) sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216).
Agar penjelasan dari Al-Qur’an di atas dapat difahami secara lebih mendalam, maka kita dapat menambahkannya dengan merenungkan ayat-ayat yang lain. Dalam QS. Al-Kahfi: 103-106, ditunjukkan bahwa akan ada banyak manusia yang mengalami nasib yang tragis di akherat. Siapa mereka itu? Mereka adalah manusia yang banyak melakukan amal kebaikan, bahkan seluruh hidupnya di dunia dipenuhi dengan berbagai perbuatan yang baik, namun ketika dia datang menghadap Allah SWT di akherat, semua amalnya tidak ada yang diterima, semua tertolak, semua amalnya menjadi sia-sia. amalnya terhapus, amalnya tidak dinilai sama sekali oleh Allah. Na’udzubillahi min dzalik! Allah SWT berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً ﴿١٠٣﴾
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً ﴿١٠٤﴾
أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْناً ﴿١٠٥﴾
ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُواً ﴿١٠٦﴾

103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?"
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok.
Pertanyaannya: mengapa sampai terjadi hal yang demikian? Jawabnya hanya satu, yaitu: semua amal kebaikan yang dia lakukan tidak didasarkan pada ayat-ayat Tuhannya. Ayat-ayat tersebut tiada lain adalah yang sudah tertuang dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Lebih tegas lagi, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan, yang tidak melalui urusanku (jalanku), maka amalan itu tertolak” (HR. Imam Bukhori).
Inilah yang seharusnya kita perhatikan secara mendalam, agar kita tidak menyesal dalam kehidupan di akherat kelak. Wallahu a’lam